Surat Kabar Daerah Tidak Mempunyai Agenda Setting Yang Jelas

 

Pertama, surat kabar daerah tidak mempunyai agenda setting yang jelas, sehingga dalam melakukan liputan berita lebih melihat realitas yang muncul ke permukaan (politik, ekonomi, hukum, kriminalitas, olahraga, dll).

Realitas ini lebih dimaknai sebagai sebuah fakta yang terjadi, memakai asas peristiwa. Wartawan daerah sangat paham bahwa berita bukan fiksi. Berita selalu berdasarkan fakta. Fakta terdiri dari fakta pribadi dan fakta publik. Berita selalu menyangkut fakta publik, bukan fakta pribadi. Fakta publik mencakup fakta empirik dan fakta psikologis. Fakta empirik itu peristiwa riil terjadi.

Ketika fakta menunjukkan terjadi kampanye Pilkada di suatu tempat maka wartawan akan merekam segala aktivitas yang terjadi untuk menjadikannya sebagai bahan berita. Biasanya fakta lapangan itu tidak lagi digali secara mendalam oleh wartawan dengan alasan keterbatasan waktu (dikejar waktu deadline) dan beban berita yang harus dibuat oleh setiap wartawan minimal tiga berita sehari.

Kedua, surat kabar daerah memanfaatkan momentum suatu peristiwa sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan ekonomi. Kemajuan teknologi informasi telah mendorong perkembangan media massa dengan pesatnya sehingga memungkinkan dijadikan ajang bisnis. Kalau para pedagang Eropa zaman dulu menggunakan pers sebagai alat menyampaikan informasi harga-harga dagangannya, maka Julius Caesar memanfaatkan pers sebagai kegiatan propaganda senatornya. Di zaman modern, hampir semua negara menjadikan pers sebagai alat politik pemerintahannya. Sekarang di era informasi, masyarakat menjadikan pers sebagai lembaga bisnis dengan menjual informasi, baik berita maupun iklan.

Sadar atau tidak, redaksi surat kabar daerah ikut terpengaruh oleh lembaga (bagian) “ekonomi” dalam struktur internal surat kabar, seperti lembaga periklanan dan pemasaran koran. Karena pemasang iklan tertentu biasanya ikut diservis dengan berita, atau karena membeli surat kabar dalam jumlah tertentu maka dapat dibarter dengan berita tertentu pula.

Padahal idealnya setiap bagian dalam struktur penerbitan surat kabar tersebut tidak saling mempengaruhi karena setiap bagian itu sudah mempunyai tugas dan tanggung jawab. Ada tiga bagian yang menonjol dalam surat kabar daerah, yakni bagian redaksi, bagian iklan, dan bagian sirkulasi (pemasaran).

Bagian redaksi bertanggungjawab atas pekerjaan yang terkait dengan pencarian dan pelaporan berita. Sajian pemberitaan itu meliputi penentuan fokus berita, penentuan topik, pemilihan berita utama (head line), berita pembuka halaman, pemilihan nara sumber, dll. Bagian redaksi senantiasa disibukkan dengan rapat yang menentukan informasi layak dan tidak layak disiarkan. Organisasi keredaksian harus diisi oleh orang-orang yang punya pemahaman baik terhadap teknis tulis-menulis.

Bagian iklan adalah salah satu bagian yang tidak kalah penting dalam memasok penghasilan bagi perusahaan penerbitan pers. Bagian ini menjual kolom-kolom yang ada pada surat kabar dalam bentuk advertensi (advertising). Iklan dalam penerbitan pers dibagi dalam iklan umum dan iklan khusus. Iklan umum adalah iklan yang benar-benar untuk kepentingan bisnis, misalnya perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga bisnis, instansi pemerintah, dan siapa saja yang ingin mempromosikan hasil usahanya dengan sasaran untuk mencari keuntungan. Iklan khusus yakni iklan yang sasarannya diperuntukkan bagi kegiatan sosial, misalnya pengumuman, iklan keluarga, iklan layanan masyarakat, dan sebagainya. Sedangkan bentuk iklan bisa berupa iklan display, iklan kolom, iklan baris, dan pariwara (advertorial).

Bagian sirkulasi dalam perusahaan penerbitan pers berarti “peredaran”. Bagian ini merupakan satu dari tiga komponen penjualan yang khusus menjual produk penerbitan (koran).

Ketiga, surat kabar daerah memiliki keterbatasan sumber daya manusia. Redaktur dan wartawan masih rendah pemahaman soal pentingnya netralitas pemberitaan. Akibatnya, berita yang bersifat tidak netral dalam surat kabar daerah tidak disadari sepenuhnya oleh wartawan maupun redaktur bahwa berita tersebut tidak netral atau tidak objektif. Menurut pemahaman mereka (wartawan dan redaktur) terhadap berita lebih pada pemenuhan kaidah dan nilai-nilai dasar jurnalistik. Bahwa sesuatu berita memiliki nilai layak berita jika di dalamnya ada unsur: Aktualitas (Timeliness), Kejelasan (clarity) tentang kejadian, Kejutan (surprise), Kedekatan (proximity), Dampak (impact), Konflik personal dan Makna Kemanusiaan (Human Interest). Sepanjang berita sudah memenuhi faktor-faktor tersebut maka dianggap sudah layak, tanpa berpikir jauh mengenai kenetralan dalam kaitannya dengan orang lain atau pihak lain, misalnya kandidat lain dalam berita Pilkada.

Padahal menurut Westersthal objektivitas yang berhubungan dengan nilai-nilai dan fakta juga mengandung implikasi-implikasi evaluatif sebagai unsur impartiality (ketidak berpihakan), selain dimenasi kognitif yang berupa unsur faktualitas.

Keempat, ketergantungan wartawan surat kabar daerah terhadap nara sumber sangat tinggi. Faktor ini menyebabkan nara sumber yang pro aktif mengkomunikasikan keinginan-keinginan politiknya dengan wartawan akan diuntungkan oleh media. Sebaliknya, nara sumber yang tidak pandai berkomunikasi dengan wartawan maka tidak akan diperhatikan oleh wartawan sehingga tidak mendapat porsi pemberitaan seperti yang diharapkan. Di daerah, masih banyak orang, termasuk elit politik, yang belum menganggap berita surat kabar sebagai hal yang strategi untuk membangun citra politiknya secara baik.

Ketergantungan wartawan terhadap nara sumber ini dapat dilihat pada banyaknya berita Pilkada pada surat kabar daerah yang hanya berdasarkan keterangan pers dari seseorang, atau sekelompok orang. Baik berita itu mencitrapositifkan dirinya atau pihak yang didukungnya maupun mencitranegatifkan pihak lain.

Kelima, wartawan atau surat kabar daerah mempunyai kedekatan personal dengan orang (pejabat, tokoh, aktivis, atau lembaga pemerintah, swasta, organisasi, perguruan tringgi) yang ada di wilayahnya. Kedekatan selain datang dari wartawan, juga dari redaktur atau petinggi media yang lain, seperti manager dalam surat kabar. Walaupun tidak melakukan liputan langsung di lapangan namun bisa melakukan penitipan-penitipan kepentingan kepada wartawan peliput. Baik kepentingan pribadi maupun kepentingan untuk lembaga,atau gabungan kepentingan pribadi dan lembaga.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s