Bangunan Kuno Peninggalan Putra Bupati Brebes Butuh Perhatian Pemerintah

Purwakarta, POSMERDEKA

Adanya benda cagar budaya berupa bangunan dan benda kuno yang berlokasi di Kampung Karangsari Rt. 10/02 Desa Citalang, Kecamatan dan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, telah menjadi bukti sejarah bahwa di kawasan tersebut sempat dijadikan sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat tinggal putra Bupati Brebes ke IV, Rd. Mas Sumadireja, yang datang ke Purwakarta sekitar akhir abad ke 17. Waktu itu, Rd. Mas Sumadireja datang ke Purwakarta guna mengemban tugas dari Bupati Brebes yang merupakan ayahandanya sendiri untuk bertempur melawan tentara Belanda di Batavia (Jakarta).

Kendati berlokasi di Purwakarta, akan tetapi bangunan kuno yang menjadi ciri khas rumah adat Sunda itu bukan milik pemerintah daerah setempat, melainkan berada di bawah naungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Kerja Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung.

Di dalam bangunan atau rumah kuno yang memiliki panjang 16 meter serta lebar 8 meter itu, terdapat beberapa benda kuno peninggalan Rd. Mas Sumadireja yang bergelar Patinggi III. Antara lain Lisung dan Alu (dalam Bahasa Sunda disebut Halu), Nampan atau baki tembaga, Nampan seng hias, Genteng rumah yang dibuat pada abad ke 17, Mesin jahit kuno, seperangkat keris pusaka Zaman Mataram, dan senjata khas Jawa Barat, Kujang.

Sayangnya, bangunan atau rumah kuno berikut benda-benda kuno yang dijadikan sebagai benda cagar budaya itu, saat ini luput dari perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah. Betapa tidak, bangunan kuno yang sejak pertama kali dibangun hingga saat ini belum pernah diperbaiki dan kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Menurut keterangan Endang Awali, sang Juru Pelihara Bangunan Kuno dan Benda-benda Cagar Budaya di tempat itu, sedikitnya dibutuhkan anggaran sekitar Rp. 50 juta untuk memperbaiki bentuk bangunan yang sudah rusak, terutama di bagian dapur yang tingkat kerusakannya sudah sangat parah.

“Sejak pertamakali saya bertugas di tempat ini sekitar tahun 1992, baik pemerintah pusat maupun daerah tidak pernah ada yang mau memperhatikan keberadaan serta kondisi bangunan kuno di tempat ini. Padahal, benda-benda cagar budaya di tempat ini merupakan peninggalan para leluhur bangsa yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi,” terang Endang Awali ketika ditemui POSMERDEKA, Senin (19/11). (Nana Cakrana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s